In Thoughts
AI, AI, AI Gue Pikirin (AGP)
Belakangan ini, saya sering merasa jenuh setiap kali membuka media sosial. Entah itu saat sedang scrolling santai di X (Twitter), Threads atau LinkedIn, rasanya seperti sedang masuk ke sebuah pabrik mesin tulisan raksasa. Semuanya serba “bau AI”.
Saya menemukan banyak sekali postingan motivasi yang susunan kalimatnya sangat rapi, tapi entah kenapa, saat dibaca rasanya kosong–seperti tidak ada jiwanya. Di Threads atau X pun sama saja; isinya utas edukatif dengan poin-poin yang sangat simetris, namun terasa hambar. Bahkan konten video sekarang narasinya sering kali menggunakan skrip dengan pola sangat mudah ditebak.
Saya menyebut fenoma ini dengan istilah AGP: AI, AI, AI Gue Pikirin. Bukannya saya sok anti-teknologi, tapi jujur saja, lama-lama rasanya melelahkan juga. Kita seperti sedang dikepung oleh konten yang terlihat “sempurna” tapi tidak terasa nyata.
Pernahkan Anda membaca sebuah artikel, baru sampai paragraf kedua, batin Anda sudah berbisik: “Ah, ini mah pasti hasil ChatGPT!?” Aroma robotnya itu, makin hari makin tercium kuat.
Kehilangan “Bau” Manusia
Dulu, saya sangat senang membaca tulisan orang karena setiap penulis punya karakter atau “bau” yang unik. Ada yang gaya bahasanya sedikit berantakan tapi terasa sangat otentik, ada juga yang idenya aneh tapi justru membuat saya berpikir lama. Sekarang? Segalanya cenderung seragam.
AI memang membuat semua orang bisa menulis dengan standar yang sama bagusnya, tapi dampaknya semua karya jadi terdengar sama.
Kita kehilangan “sidik jari” dalam setiap karya kreatif. AI memang sangat pintar merangkai kata, tapi ia tidak tahu rasanya frustrasi saat buntu mencari ide, tidak tahu rasanya senang saat menemukan sudut pandang unik, dan yang paling ketara: AI tidak punya selera.
Masalah utamanya adalah banyak dari kita yang dari kita yang jadi malas berpikir karena adanya “jalan pintas” ini. Mau buat konten? Tinggal mintai AI. Mau buat caption? Serahkan ke AI. Akhirnya, banyak orang hanya menjadi kurir konten yang tidak benar-benar memiliki isi atau nilai personal.
Balik ke Isi Kepala Sendiri
Padahal kalau kita perhatikan lagi, di tengah banjirnya konten robot ini, tulisan yang benar-benar “manusia” justru mulai menjadi barang mewah. Orang-orang sebenernya rindu dengan opini yang berani, cerita personal, website yang tidak berwarna ungu dengan komponen shadcdn yang sama, atau sekadar tulisan yang tidak perlu mengikuti struktur kaku “10 Cara Menjadi Suskes” ala AI.
Saya melihat fenomena orang-orang mulai beralih ke Substack sebagai pengganti Medium adalah salah satu bentuk pencarian tempat untuk mengutarakan keresahan ini.
Meskipun sayangnya, akhir-akhir ini tulisan yang terasa “bau AI” juga mulai merajalela di sana.
Kebangkitan Rasa
Di dunia kerja, apalagi di bidang desain yang saya geluti, kondisinya pun sama. Perusahan memang butuh AI untuk mengejar kecepatan dalam produksi, tapi untuk strategi dan “nyawa” dari sebuah produk, mereka tetap mencari manusia. Mereka butuh orang yang punya judgment dan rasa. Karena bagaimanapun, robot tidak bisa diajak berdiskusi soal apakah sebuah “rasa” sudah pas atau belum untuk pengguna.
Menariknya, belakangan ini muncul fenomena the rise of design engineering. Ini menurut saya adalah pertanda nyata bahwa industri mulai sadar akan keterbatasan akan otomatisasi. Banyak perusahaan rintisan (startup) mulai mencari founding designer tidak cuma taste terhadap desain, tapi juga dituntut paham implementasi engineering.
Kenapa ini terjadi? Karena pada akhirnya, taste adalah nyawa dari sebuah produk. Desain bukan cuma soal gambar yang bagus hasil generate mesin, tapi soal bagaimana setiap elemen berfungsi dan terasa pas saat berinteraksi dengan manusia. Di sinilah judgment manusia menjadi pijakan utama yang tidak bisa digantikan oleh AI mana pun.
Kesimpulan
Jadi, istilah AGP ini sebenarnya adalah pengingat untuk diri saya sendiri. Saya tidak ingin saking sibuknya memikirkan bagaimana cara menggunakan AI, saya sampai lupa bagaimana caranya berpikir menggunakan otak sendiri.
Bagi saya, tidak apa-apa kalau tulisan saya tidak serapi hasil AI. Tidak apa-apa juga kalau struktur tulisan ini tidak mengikuti aturan algoritma agar viral. Di dunia yang isinya sudah penuh dengan otomatisasi robot, saya lebih memilih untuk terdengar seperti manusia biasa—yang mungkin kadang salah pilih kata, tapi pembaca tahu bahwa beneran ada "orang" di balik tulisan itu.